Sabtu, 21 November 2015

Backpacker Sulawesi Utara Bab I

I.    Dimana letak ibukota Sulawesi Utara?

-    Letak Geografis

Manado adalah ibukota dari provinsi Sulawesi Utara, yang letaknya berada di tepi pantai Laut Sulawesi tepatnya di Teluk Manado dengan posisi geografis 124°40’ - 124°50’ BT dan 1°30’ – 1°40’ LU. Kota Manado memiliki iklim tropis dengan suhu rata-rata 24° - 27°C. Luas daratannya adalah 15.726 hektar dengan garis pantai  18.7 km, secara administratif berbatasan dengan:

Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Minahasa Utara
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Minahasa
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Minahasa Utara dan Kabupaten Minahasa
Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Sulawesi.

-    Tentang Manado

Provinsi Sulawesi Utara ternyata berada di ujung utara Pulau Sulawesi dengan Ibu kota Manado. Provinsi ini di sebelah selatan berbatasan dengan provinsi Gorontalo yang merupakan hasil pemekaran wilayah dari provinsi Sulawesi Utara. Sementara kepulauan Sangihe dan Talaud merupakan bagian utara dari provinsi ini dan berbatasan dengan Davao di negara Filipina.

Semboyan: "Si Tou Timou Tumou Tou" dari Bahasa Minahasa,  dengan pengertiannya yaitu Manusia hidup untuk menghidupi/mendidik/menjadi berkat orang lain. Amin

Karena kota Manado letaknya berada di Tanah Minahasa, maka penduduk asli dan mayoritas adalah suku Minahasa diikuti oleh suku Sangir dan Talaud (termasuk Siau), Gorontalo, Mongondow, Cina Manado serta Jawa dan Batak sebagai suku pendatang dari luar Sulawesi Utara. Dan dengan persentase Kristen Protestan 62.10% diikuti Islam 31.30% dan Katolik 5.02% dan sedikit Budha dan Hindu.

Keunikan Manado tidak berhenti disitu saja, Bahasa juga membuat Manado Unik, bahasa yang digunakan di Manado adalah bahasa Melayu Manado yang menyerupai bahasa Indonesia tetapi memiliki dialek yang berbeda dan bercampur dengan berbagai suku kata dari bahasa Belanda, Portugis, Jepang dan Cina. Menurut data BPS tahun 2010 penggunaan bahasa daerah sehari-hari di Manado (Sulawesi Utara) mencapai 99.1%,

Dikutip dari situs resmi pemerintah Kota Manado yang beralamat di manadokota.go.id nama Kota Manado menurut  legenda yang diceritakan berasal dari bahasa Etnik Toutemboan Minahasa yaitu “Manarow” yang artinya “Pergi ke Negeri Jauh”.  Jikalau seseorang Suku Minahasa asli hendak bepergian ke Manado, maka tetangganya akan menyapanya dalam bahasa daerahnya, “Mange-an isako..??” (Mau kemana engkau..??), maka dia akan menjawab, “Mange-an Manarow atau mau pergi ke tempat negeri yang Jauh”. Dalam versi Bahasa Sangir Tua disebut Mararau; Marau yang artinya Jauh.

Dan Kata “Manarow” itu sendiri merujuk pada sebuah Pulau yaitu Pulau Manado Tua, dimana penghuni Pulau Manado Tua ini adalah Orang-orang dari Etnis Sangir Tua yaitu Etnis Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu. Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu itu berasal dari bahasa Sangir Tua yaitu “Bowong artinya Atas dan Kehu artinya Hutan.. jadi Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu adalah sebuah Kerajaan yang terletak diatas Hutan yang Rajanya disebut Kulano.

Nama lain yang lebih tua untuk Kota Manado adalah “Wenang/Benang”.. Wenang atau Benang itu sendiri adalah dalam versi Bahasa Sangir Tua adalah “Gahenang/Mahenang”, artinya api yang menyala/ bercahaya/ bersinar (suluh, obor, api unggun). Pohon yang banyak tumbuh di pesisir Manado ini, kayunya sangat berguna sebagai bahan penyamak jala nelayan agar tidak lekas lapuk oleh air laut. yakni Macaranga Hispida yang pada masa itu menurut kisah banyak tumbuh atau biasa disebut Pohon Bahu yang bisa kita jumpai disepanjang Pantai di Bahu Malalayang sampai di Kalasey.

Selain itu nama lokasi ini pernah disebut sebagai Mandolang atau lengkapnya Mandolang Amian (Mandolang Utara) untuk membedakannya dengan Mandolang Talikuran (Mandolang Barat), yakni lokasi yang sekarang ini terletak di arah barat daya Kota Manado. Kata Mandolang diambil dari bahasa Tombulu tua, yakni Maodalan yang artinya kunjung-mengunjungi. Berhubung tempat tersebut sering di kunjungi oleh para pelaut dari luar Minahasa yang datang untuk mengadakan hubungan dagang berupa tukar-menukar barang dengan orang Minahasa waktu itu.

Tempat tersebut dimasa lalu juga disebut sebagai Tumpuhan Wenang atau Labuan Wenang. Sebutan pertama berkaitan erat dengan lokasi tempat berdagang orang-orang Minahasa dari pedalaman dengan orang-orang luar. Sedangkan Labuan Wenang dimaksudkan sebagai lokasi pesisiran dimana orang-orang luar Minahasa datang dan berlabuh untuk berdagang dengan orang Minahasa.

Mengingat eratnya penamaan lokasi diatas dengan urusan perdagangan, maka dapatlah dikatakan bahwa nama Manado mulai dikenal dunia luar sejalan dengan ramainya kegiatan perdagangan saat itu. Bersamaan dengan itu pula masuklah pengaruh bahasa Melayu yang dibawah oleh pedagang nusantara. Bahasa itu sering digunakan dan disebut bahasa Melayu Pasar yang sekarang ini telah berkembang menjadi bahasa Melayu Manado.

Menurut riwayat perkembangan sejarah Indonesia, Kota Manado telah  dikenal  dan  didatangi oleh orang-orang dari luar negeri sejak abad ke – 16. Akan tetapi momentum yang lebih banyak memiliki kesan-kesan historis dalam dokumen negara, yakni pada abad ke – 17 khususnya di tahun 1623.

Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Manado merupakan pusat pemerintahan dari wilayah Keresidenan Manado yang pada waktu itu meliputi pulau Miangas (pulau paling utara dari Sulawesi Utara) sampai ke Kolonedale di Sulawesi Tengah.

Oleh karena pengaruh situasi politik dan struktur pemerintahan, maka status Kota Manado dari masa ke masa mengalami perubahan-perubahan, mulai dari status Gemeente Manado hingga berstatus daerah Kota Manado. (Editor : Rafans Manado – Sumber, Pemkot Manado dan Wikipedia serta data BPS SULUT)


Makanan Khas

Makanan khas Sulawesi Utara yang paling populer adalah Tinutuan atau Midal (bubur Manado). Di daerah Minahasa terdapat makanan khas yang jarang ditemui di daerah lainnya di Indonesia, seperti rintek wuuk (biasa disebut RW) atau daging anjing, daging ular, daging babi dan paniki (daging kelelawar). Makanan khas lainnya seperti woku blanga dan cakalang fufu sering ditemui di daerah pesisir.

Manado memang unik, dimulai dari letaknya yang dikelilingi oleh perbukitan dan berada di pesisir pantai sehingga  menurut saya mengingatkan kota Nice yang berada di bagian selatan Prancis. Manado juta memiliki Taman Laut Bunaken yang sangat terkenal di kalangan divers se-Indonesia bahkan di dunia.

Manado juga menjadi alternative bagi wisatawan kuliner, tentunya yang paling dicari adalah bubur Manado atau sehari-hari dikenal dengan nama Tinutuan, apalagi kalau disajikan dengan Milu Rebus, Perkedel Nike, Cakalang Fufu dan dabu-dabu Roa. Ada juga berbagai makanan khas lainnya yang tidak kalah enak seperti ikan bakar dan woku (Bobara, Goropa, Baronang, dll) yang restorannya berjejer di pinggiran pantai Manado juga makanan khas Minahasa seperti RW, Paniki, Pangi, Tinoransak dan Ayam bulu yang bisa ditemui di restoran Minahasa sepanjang jalan Manado – Minahasa.

Bagi para pencinta kue yang menjadi idola adalah Klaper Tart, Nasi Jaha, Balapis, Cucur, Dodol Minahasa dan Apang serta masih banyak lagi … untuk snack di pagi dan sore hari warga Manado biasa mengemil pisang goreng yang banyak dijual di pinggir jalan bahkan di restoran – restoran besar. Juga ada berbagai cemilan lainnya seperti gohu dan es kacang susu.

Orang Manado sangat menyukai makanan yang pedas yang ngetren disebut dabu-dabu dan rica-rica. Sehingga kalau tidak ada rica-rica sangat sulit bagi orang Manado untuk menikmati makanannya.

Itulah Letak geografis dan Sesuatu tentang Kota Manado, sebuah kota yang dikenal dengan kerukunan antar umat beragama dan merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Utara.


http://www.ernawatililys.com/

4 komentar:

  1. waow...waow...menu-menu kulinernya patut di coba ituuh..terutama yang ikan-ikan....awas ya bu Clara, kalo saya sempat ke Manado kelak, saya minta traktir loh...hehehe.

    btw, banyak perusahaan-perusahaan kan disitu? siapa tahu ada yang bisa saya tawari training-training saya...

    BalasHapus
  2. Asyik dapat ilmu baru tentang istimewanya sulawesi. Jadi ingin kesana mampir. lanjutkan perjalanan naskahnya. Menarik dan unik. Postingannya juga keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih teh erna... mohon inputnya terus dan doanya tetap bisa bersama KMO dan sukses buat Teteh dan keluarga...amin.. God bless ^_^

      Hapus